Hoax dan Fake News

 

Hoax atau Fake News atau Berita Palsu akhir akhir ini makin marak, dengan makin berkembangnya media sosial dan group group messaging, penyebaran hoax menjadi semakin mudah dan setiap orang berpotensi menjadi fowader nya

disini saya mencoba menganalisa fenomena ini dari sisi motivasi pembuat berita hoax, ciri ciri hoax, mengapa orang sedemikian mudah tertipu dan ikut menyebarkan hoax dan tips tips agar terhindar menjadi penyebar hoax

 

Motivasi Pembuat Berita Hoax / Fake News

Motivasi pembuat berita hoax tentu bermacam macam, antara lain :

  • Sekedar iseng, menikmati atau mendapat kepuasan tertentu bila kabar bohong nya berhasil disebarkan dan dipercaya banyak orang,
  • Penipuan, mem-broadcast kabar bohong untuk menipu calon calon korban nya.
  • Persaingan bisnis, menyebarkan informasi palsu untuk merugikan lawan bisnisnya
  • Politis dan atau Ideologis, menyebarkan hoax untuk keuntungan politis dan atau ideologis kelompok tertentu
  • Motif komersial, untuk mendapatkan keuntungan tertentu dari penyebaran informasi palsu tersebut.

 

Ciri Ciri Hoax

  • Sumber tidak jelas, biasanya tidak dapat dilacak penulis aslinya,
  • Tidak jelas waktu dan atau tempat nya.. (berita atau hoax lama bisa berulang ulang beredar..)
  • Agar tampak meyakinkan, biasanya diselipkan istilah istilah rumit, agar tampak ilmiah.
  • Kadang mencatut nama nama tokoh terkenal  atau institusi tertentu, misalnya "menurut profesor X...." , atau "berdasarkan penelitian dari Universitas Y....." (masalahnya apakah beneran ada atau nggak si Profesor X atau Universitas Y itu nggak terlalu penting, kan banyak yang males ngecek, yang penting tampak keren dan meyakinkan dulu, he2x)
  • Untuk memancing ketertarikan pembaca, judul dan isi berita nya biasanya (tidak selalu) sensasional, lebay, dan kontroversial, misalnya : "heboh....", "akhirnya terungkap...." , "mengerikan...." , "ternyata...." dan atau kata kata sejenis lainnya..
  • Isi artikel tidak logis, too good to be true atau sebaliknya too bad to be true.
  • Ada yang memakai ilmu cocoklogi, fakta fakta yang bersesuaian dengan teori atau argumen yang ingin dibangun, di cocok cocok kan biar keliatan bener.
  • Saat ini berkembang pula jenis hoax baru berupa fake news, dimana sumber beritanya dari website website abal abal yang sengaja dibuat untuk tujuan men-generate berita palsu
  • Terkadang disertai url dari website ternama, walau ketika di klik, gak nyambung antara informasi yang disampaikan dan isi berita di website tersebut.
  • Terkadang disertai foto, ada yang sudah direkayasa, atau ada pula yang foto nyo asli, tapi gak relevan dengan informasi yang disampaikan.
  • Terkadang disertai himbauan untuk menyebarluaskan-nya, misalnya "sebarkanlah pesan ini ke 10 orang yang anda sayangi..." , "jangan berhenti di Anda, sebarkan pesan ini...."  , atau " sesibuk apapun anda, sempatkan untuk membagikan pesan ini kepada yang lain"

 

Mengapa Banyak Orang Mudah“Tertipu” dan Turut Menyebarkan Hoax

Yang menarik adalah mencermati prilaku sebagian masyarakat, yang cendrung mudah percaya dan ikut ikutan menyebarkan Hoax tersebut,

Berikut sedikit analisa beberapa faktor penyebab nya :

  • Manusia cendrung senang berbagi informasi, berita yang dirasa bagus, penting dan atau bermanfaat dengan mudah cendrung langsung dishare ke kelompok sosialnya
  • Ingin dipuji atau dianggap sebagai "yang paling duluan tahu" atau dapet julukan semacam "rajane informasi" (walau terkadang konyol-nya, karena sering terbukti men-share informasi hoax, malah jadi terkesan "bodoh", he2x)
  • Kurang literasi, sebagian orang kesulitan menganalisa dan membedakan apakah suatu informasi benar atau tidak.
  • Malas atau tidak terbiasa check & re-check suatu informasi.
  • Terlalu lugu dan atau mudah percaya terhadap informasi baru yang diterima.
  • Manusia cendrung mencari “pembenaran” atas keyakinan nya, hal ini mendorong orang cendrung mudah percaya dan kurang kritis terhadap informasi informasi yang sesuai dengan nilai nilai yang diyakininya, dan dengan mudah ikut menyebarkan berita berita yang pro terhadap keyakinan agama tertentu, sesuai dengan aliran yang diyakininya, dan atau memperkuat kelompok politik yang didukung nya.
  • Motivasi religius, merasa berkewajiban untuk ikut menyampaikan pesan pesan bernada religius, sebenarnya niatnya baik, tapi kadang ada yang terlalu bersemangat, sehingga lupa (atau merasa tidak perlu) mengecek ke-sahihan isi berita yang di sebarkan.
  • Manusia cendrung waspada dan cari aman, oleh karena itu informasi seperti obat yang berbahaya, makanan beracun atau sejenis nya dengan cepat langsung di share, walau terkadang menyadari informasi tersebut belum tentu benar, pemikiran bahwa “siapa tau benar” dan kalaupun tidak benar “apa salahnya waspada” ikut menyuburkan praktek penyebaran hoax
  • Asosiasi terhadap kelompok sosial tertentu- manusia cendrung ingin menjadi bagian dari suatu kelompok sosial, agar diterima dan dianggap bagian dari suatu kelompok sosial, orang cendrung merasa perlu ikut terlibat dalam aktivitas kelompok, termasuk dengan turut menyebarkan informasi yang relevan dengan nilai nilai kelompok tersebut.
  • Sebagian orang suka dengan semacam "teori teori konspirasi", rasanya seru deh membayangkan dunia itu kayak di film- film, selalu ada sekelompok orang di-luar sana yang berkomplot atau berkonspirasi untuk berbuat kejahatan. (padahal sering kejadian kejadian di dunia ini terjadi dengan begitu saja, nggak se-seru di film lho, he2x)

 

Jangan Mau Menjadi Penyebar Hoax

Ikut menjadi penyebar berita hoax tentu tidak baik, bahkan bisa terkena konsekuensi hukum (seperti diatur dalam UU ITE), atau paling tidak , jika informasi informasi yang kita share ternyata banyak yang terbukti hoax, tentu akan menurunkan kredibilitas, citra dan nama baik kita secara sosial.

Berikut beberapa Tips agar kita terhindar menjadi penyebar Hoax :

  • Kenali ciri ciri Hoax (antara lain seperti yang sudah disebutkan diatas)
  • Jangan terlalu lugu, tanamkan sikap waspada, daripada memiliki anggapan dasar "semua informasi yang saya terima adalah benar, sampai kemudian terbukti salah", lebih baik memegang prinsip sebaliknya "semua informasi yang saya terima adalah salah, sampai kemudian terbukti benar", he2x..
  • Check & Recheck- (atau Tabayyun) biasakan untuk selalu mengecek dan menyelidiki kebenaran suatu informasi, search di internet, kalau informasi itu benar dan penting, hampir tidak mungkin tidak diberitakan oleh situs situs yang terpercaya.
  • Kembangkan sikap kritis, analisa terlebih dahulu informasi yang diterima sebelum memutuskan untuk ikut menyebarkan, apakah informasi tersebut benar?, kalaupun benar, apakah informasi tersebut bermanfaat?
  • Think Before You Share! Jika informasi yang kita terima sulit untuk diverifikasi dan diragukan kebenarannya, lebih baik tidak usah disebarkan, buang jauh jauh prinsip "yang penting sebar dulu, siapa tau beneran.." , atau "sekalian sambil ngecek, toh kalo hoax kan ntar pasti ada yang coment..."
  • Pertimbangkan juga sensitivitas content informasi tersebut. apakah termasuk dalam kriteria "ujaran kebencian", atau apakah akan ada pihak yang tersinggung atau ter-sakiti dengan berita tersebut.

 

Sebagai penutup, terkait kehati hatian kita dalam mencerna suatu informasi, mari kita renungkan kembali suatu ayat dalam Kitab Suci Al Quran berikut :

Hai orang orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik yang membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaanya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu” (QS .Al-hujurat : 6)

 

Baca juga :

Waspada Kecanduan Dunia Maya

Antara Kenikmatan Instant vs Kenikmatan di Masa Depan

Komentar :

Kilk disini untuk menulis komentar

Google Search

Custom Search

Artikel Populer

Kamus Bahasa Palembang Kamus Bahasa Palembang Saturday, 01 April 2017
Kiat Bisnis dan Investasi di Timor Leste Kiat Bisnis dan Investasi di Timor Leste Saturday, 31 December 2016
Memahami Maraknya Fenomena Hoax Memahami Maraknya Fenomena Hoax Sunday, 25 December 2016